Iman K.
Articles by this Author
Salah satu perbedaan utama dari hukum Tuhan dan hukum manusia adalah, Hukum Tuhan memiliki dua dimensi sedangkan hukum manusia hanya memiliki satu dimensi. Hukum Tuhan memilik aspek spiritual sedangkan hukum manusia tidak memiliki aspek ini, dengan kata lain hukum manusia tidak pernah akan meningkatkan spiritualitas seseorang.
Bagi pembaca situs ini mungkin ada yang kesulitan untuk mencari sejarah singkat lahirnya kata ‘logika’ dan lahirnya terminologi “logika” sebagai ilmu. Artikel itu pernah ditulis disini : http://www.parapemikir.com/articles/52/1/Pengantar-Logika/Page1.html
Mak Lampir tertawa terkekeh-kekeh, dan Nyai Loro Kidul pun menarik kais kereta kudanya meniti jalan diangkasa. Begitu pula pendekar dari dunia kramat itu, melewati kobaran api yang dahsyat dengan menunggang kuda sembrani. Dan disudut negeri yang lain, Gatot Kaca dan Superman tertegun satu sama lain menatap ke unikan kostum terbang masing-masing.
Menyambung postingan yang pertama yang kita beri judul ‘Mereka yang disebut Islam’ maka sekarang kita tiba kepada bahasan yang kedua, yakni bagaimana jika seseorang yang hatinya tunduk kepada kebenaran. Pintu hatinya terbuka untuk menerima dan bertindak menurut kebenaran sementara lahiriahnya dia adalah non muslim seperti misalnya Descartes. (Seorang filosof Perancis,red.)
Bahasan kali ini adalah penjelasan penting dari pembahasan awal kita kemarin, yang kita beri judul ‘perbuatan baik non muslim’. Sekarang kita tiba kepada persoalan dan sekaligus pertanyaan apa sih yang disebut muslim atau Islam itu?
Setelah kita mengetahui jenis ketundukan fisik dan ketundukan akal intelek, sebagaimana yang kita lihat pada postingan sebelumnya yang diberi judul ‘mereka yang disebut kafir’ maka selanjutnya kita akan membahas jenis ketundukan yang ketiga, yakni ketundukan hati.
Mengingat kembali kepada postingan sebelumnya, kita telah tiba kepada pertanyaan, apa sih yang disebut dengan hati yang bersih?
Setelah kita melihat dan membaca apa alasan yang diajukan oleh kelompok kaum intelektual dan kelompok orang-orang sholeh pada postingan sebelumnya [mereka yang disebut kaum intelektual dan mereka yang disebut orang sholeh yang kaku] , dari alasan-alasan yang mereka ajukan nampaknya bisa kita saksikan bahwa titik tekan dari kedua kelompok ini adalah pada persoalan kafir atau tidak kafir.
Kembali kepersoalan apakah orang-orang yang tidak mengikuti agama yang benar TETAPI melakukan pekerjaan dan perbuatan sesuai dengan ajaran agama yang benar, semua amalannya itu akan diterima oleh Tuhan. Kita sudah membicarakan bagaimana alasan logis yang diajukan oleh kaum intelektual dipostingan sebelumnya. Dan kita juga sudah memperhatikan apa yang mereka kutip dari Al-quran sebagai landasan fundamentalnya.



