--- On Wed, 6/4/08, abdul rahman <Inspiring.Rahman@ …> wrote:

From: abdul rahman <Inspiring.Rahman@ …….>
Subject: [parapemikir] STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA ALA RAND CORPORATION (Dept.Pertahanan & Intelijen AS)
To: parapemikir@ yahoogroups. com

Date: Wednesday, June 4, 2008, 4:29 AM

STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA, Mudah-mudahan kita sadar apa  sedang  dilakukan orang kafir untuk menghancurkan dan mengadu domba kaum muslimin...

Setelah membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya membentrokkan antar kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari upaya membentrokkan antara NU yang dikenal tradisionalis dengan ormas Islam yang Barat sering disebut Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau MMI  

Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya :

Pertama : Support the modernists first  (mendukung kelompok Modernis)

  • Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang disubsidi.
  • Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda.
  • Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan Islam.
  • Memberikan mereka suatu platform publik
  • Menyediakan bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanya an yang fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah, lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya.
  • Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah  pilihan "counterculture" bagi kaum muda Islam yang tidak puas.
  • Memfasilitasi dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan.
  • Membantu dalam membangun organisasi-organisa si sipil yang independent, untuk
  • Mempromosikan kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan mengutarakan pandangan-pandangan mereka.

Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists: Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain :

  • Menerbitkan kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kaum tradisionalis dan fundamentalis.
  • Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis.
  • Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis yang lebih dekat dengan
  • Kaum modernis.
  • Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri mereka
  • untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Kaum fundamentalis
  • secara retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis melakukan praktek politik „Islam pinggiran" yang kabur . Di tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan pandangan mereka.
  • Menambah kehadiran dan profil kaum modernis pada lembaga-lembaga tradisionalis.
  • Melakukan diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda. Mendorong orang-orang dengan ketertarikan yang lebih besar atas modernisme, seperti pada Mazhab Hanafi, lawan yang lainnya. Mendorong mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham Wahhabi yang terbelakang. Hal ini berkaitan dengan  pendanaan. Uang dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab Hambali yang konservatif. Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian dari Dunia Islam yang lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan tafsir dari Hukum Islam.
  • Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme

Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain :

  • Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak akuratannya.
  • Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktiviats illegal.
  • Mengumumkan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan.
  • Menunjukkan ketidak mampuan mereka untuk memerintah, untuk mendapatkan perkembangan positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka.
  • Mengamanatkan pesan-pesan ini kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim, kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita.
  • Mencegah menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Kucilkan mereka sebagai pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan.
  • Mendorong para wartawan untuk memeriksa isu-isu korupsi, kemunafikan, dan tidak bermoralnya lingkaran kaum fundamentalis dan kaum teroris.
  • Mendorong perpecahan antara kaum fundamentalis.

Keempat, Secara selektif mendukung kaum sekuler:

  • Mendorong pengakuan fundamentalisme sebagai suatu musuh bersama, mematahkan aliansi
  • dengan kekuatan-kekuatan anti Amerika berdasarkan hal-hal seperti nasionalisme dan ideology kiri.
  • Mendorong ide bahwa agama dan Negara juga dapat dipisahkan dalam Islam dan bahwa Hal ini tidak membahayakan keimanan tapi malah akan memperkuatnya. Pendekatan manapun atau kombinasi pendekatan manapun yang diambil, kami sarankan bahwa hal itu dilakukan dengan sengaja dan secara hati-hati, dengan mengetahui beban simbolis dari isu-isu yang pasti; konsekuensi dari penyesuaian ini bagi pelaku-pelaku Islam lain, termasuk resiko mengancam atau mencemari kelompok-kelompok atau orang-orang yang sedang kita berusahah bantu; dan kesempatan biaya-biaya dan konsekuensi afiliasi yang tidak diinginkan dan pengawasan yang tampaknya pas buat mereka dalam jangka pendek.

--
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

(TQS:
Surat ALI IMRAN, 104)

 

 

2008/6/5 Rinaldi Maskinantan <ishaputra@....>:

Dear sir,

Postingan-postingan anda sebelumnya sangat memihak FPI dan cenderung memusuhi kelompok AKKBB. Saya heran tiba-tiba anda memposting sesuatu yang bernada "mengingatkan kaum Muslimin semua" tentang upaya "adu domba dan strategi belah bambu" yang dilakukan oleh pihak ketiga.

Tuduhan adanya "strategi adu domba dan belah bambu" dan keberpihakan anda terhadap FPI, menunjukkan bahwa anda sendiri ikut andil dalam strategi tersebut. Anda mengangkat satu kelompok Muslim dalam hal ini FPI, dan "menginjak" kelompok Muslim yang lain dalam hal ini kelompok-kelompok liberal yang tergabung dalam aksi AKKBB, termasuk ormas NU. Dan sementara itu anda mengecam pihak-pihak (terkhusus media) yang mengangkat kelompok pro-demokrasi dan pluralisme serta "menginjak-injak" kelompok radikal macam FPI, dan menuduhnya telah menggunakan taktik "belah bambu" dan mengadu-domba kaum Muslim.

Berbeda dengan saya. Sejujurnya, saya berpihak kepada demokrasi dan mendukung eksistensi Ahmadiyah dalam kerangka kebebasan beragama. Saya samasekali tidak setuju dengan aksi penyerangan oleh FPI kepada kelompok AKKBB. Atas keberpihakan saya, saya tidak peduli dengan tudingan adanya "strategi adu domba dan belah bambu" dan saya berpikir bahwa ideologi kekerasan anti-pluralisme semacam FPI memang harus diberangus, dan kelompok-kelompok liberal pro-demokrasi (baik dari kalangan Muslim maupun bukan) harus didukung.

Anda tidak bisa menyalahkan sepenuhnya "pihak luar" sebagai pengadu domba dalam perkara perpecahan di tubuh umat Muslim. Bahwa kaum Muslimin sendiri, pada faktanya memang sudah terpecah dan gemar terpecah belah. "Terpecah belah", sejauh masing-masing kelompok menjunjung tinggi asas kebebasan berpendapat adalah sehat. Karena tidak ada agama di dunia yang tidak memiliki denominasi atau sempalan-sempalan. Namun pluralitas pemahaman agama ini seringkali dirusak oleh kelompok-kelompok keras yang anti-pluralisme, sehingga menimbulkan bentrok. Jadi persoalannya jelas bukan pada pluralitas pemahaman agamanya, namun pada adanya kelompok-kelompok keras yang anti pluralisme yang seringkali membuat masalah.

Biang persoalannya adalah pada kelompok anti-demokrasi dan pluralisme. Saya pikir FPI harus bertobat.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- ----

PS: Sodara, saya mendengar kabar dari seorang rekan bahwa FPI menerima "setoran" dari sejumlah diskotek dan tempat maksiat agar tidak diserbu. Saya tidak hendak bernafsu membenarkan kabar ini, namun yang saya lihat FPI memang PILIH KASIH dalam memberangus kemaksiatan.

FPI mendemo Playboy dengan keras, tapi tidak untuk FHM, Popular, Maxim, dan majalah sejenis YANG LEBIH DULU ADA. Kini pun, Playboy tetap eksis secara bebas tanpa reaksi apa-apa dari FPI. Apakah Playboy sudah memberi "uang tutup mulut" untuk organisasi itu?

FPI "rajin" mensweeping gereja-gereja tanpa ijin sampai ke pelosok-pelosok kampung. Namun, penjual DVD porno di Glodok yang tidak seberapa jauh dari markas FPI di Petamburan (untuk ukuran kesungguhan memberangus maksiat), TIDAK TERSENTUH.

FPI mengurusi gereja ilegal. Saya heran, apa relevansinya antara ilegalitas sebuah gereja dengan nama yang disandang pemrotesnya, yakni FPI = Front Pembela Islam? Jika itu bukan gereja yang ilegal, SAYA YAKIN FPI TIDAK PEDULI. Saya pikir, FPI (dan Islam garis keras umumnya) memiliki SENTIMEN terhadap umat Kristiani dan menjadikan "gereja ilegal" sebagai pelampiasan terhadap kebenciannya. Saya setuju bangunan ilegal harus ditertibkan, namun itu persoalan hukum dan tidak ada kaitannya dengan ormas agama, walau bangunan ilegal itu adalah sebuah rumah ibadat. Kan tidak lucu kalau ada ormas Kristen gantian mensweeping masjid ilegal… atau umat Buddha mensweeping Pura ilegal.

(Jangan-jangan nanti kalau ada orang Kristen setir mobil tanpa bawa SIM dan STNK, FPI juga meensweepingnya! Ini kan gila dan bodoh..)

FPI adalah organisasi sakit yang mengatasnamakan Islam dan justru tindakannya melecehkan Islam itu sendiri.

--- On Thu, 6/5/08, abdul rahman <Inspiring.Rahman@....> wrote:

From: abdul rahman <Inspiring.Rahman@.....>
Subject: Re: [parapemikir] STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA ALA RAND CORPORATION (Dept.Pertahanan & Intelijen AS
To: parapemikir@yahoogroups.com
Date:
Thursday, June 5, 2008, 8:05 AM

Oh gitu ya... ;)

Mas rinaldi, Saya menghargai pendapat anda koq...

Sadar ga sadar kesetujuan anda dalam mendukung eksistensi ahmadiyah sudah membuktikan bahwa anda termasuk orang yang terpancing untuk di adu domba...

Seharusnya anda mengetahui dengan jernih persoalan yang terjadi pada kaum muslimin... Khususnya permasalahan ahmadiyah...

Demokrasi sampai saat ini tidak membawa apa-apa bagi bangsa
indonesia,, Terbukti tidak mampu memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh umat di bumi ini...

Malah saat ini memberikan kesengsaraan yang luar biasa bagi rakyat
indonesia...

Negara AS dan Antek2nya atas nama HAM, Kebebasan, dan demokrasi melakukan penjajahan dan pembunuhan massal di negeri-negeri kaum muslimin seperti yang terjadi di Iraq, Afghanistan dll..

Saya sangat setuju dengan anda,, tidak ada kamus kekerasan dalam mengajak orang pada ISLAM...

FPI bubar tidak menjadi persoalan bagi saya...

Oya,, Saya baru liat berita tadi di detik.com, Pimpinan FPI menyatakan siap dibubarkan asalkan Penegakkan Hukum dilakukan secara Adil dan Objektif...

Saya pribadi sangat Allhamdulillah sekali FPI mau membubarkan diri dan person2 nya mau merubah metode mereka dengan lebih persuasif dan damai... No, Kekerasan!

Sekedar berpendapat saja, dalam pengamatan saya selama ini FPI sadar ga sadar telah dimanfaatkan oleh pemerintahan berkuasa dan Oknum-oknum tertentu untuk menjelekkan citra ISLAM yang penuh dengan kedamaian...

Selain itu,, pastinya ingin membenturkan kelompok-kelompok ISLAM dan masyarakat lain di
indonesia dalam rangka mengalihkan ISU-ISU kebijakan pemerintah yang saat ini telah banyak memberikan kesengsaraan luar biasa bagi masyarakat.. .

Jadi dalam pengamatan saya, FPI sangat memberikan keuntungan bagi pemerintah dan Oknum2 tertentu yang berkuasa dan memiliki kepentingan tertentu...
FPI hanya menjadi Alat oleh pemerintah kalau sewaktu-waktu kebijakan pemerintah memberikan dampak ketidaksetujuan masyarakat luas...

Wassalam...
Abdul Rahman
------------------------

Rinaldi Maskinantan <ishaputra@....>:

Saya tidak peduli dengan isu “adu domba” tersebut. Prinsip saya, dengan atau tanpa “pihak ketiga” yang mengadu domba, tindakan kekerasan dan anti-pluralisme tidak dapat dibenarkan, apalagi di zaman sekarang di mana otak harus lebih didahulukan daripada otot.

Saya mendukung Ahmadiyah dalam kerangka kebebasan beragama dan berkeyakinan. Ahmadiyah memang sesat secara teologis, namun dalam kerangka demokrasi dan HAM, mereka tetap memiliki hak untuk eksis dan mempraktekkan keyakinannya. Kesesatan teologis tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang suatu aliran agama. Kesesatan teologis adalah urusan vertikal umat manusia dengan Tuhannya.

Dalam komunitas Kristen juga ada aliran yang dipandang sesat, namanya Saksi Jehovah. Saksi Jehovah menghujat Gereja, tidak mengakui ketuhanan Yesus, dan tidak merayakan Natal. Namun umat Kristen tidak bringasan menuntut SKB yang membubarkan Saksi Jehovah. Penganut Saksi Jehovah eksis kok di Jakarta. Saya kenal beberapa orang. Saksi Jehovah itu terlihat antusias kalau bicara mengenai agamanya. Rekan-rekan Kristen saya memandang bahwa kesesatan teologis Saksi Jehovah adalah kesesatan yang bersifat vertikal, sehingga masyarakat Kristen tidak berhak melarangnya, melainkan tuhanlah yang akan mengganjarnya, begitu kira-kira.

Sejujurnya, saya memuji sikap umat Kristen dalam hal ini, yang tidak bringasan memberangus aliran yang dipandang sesat. Sikap tersebut bagi saya menunjukkan kematangan dalam beragama.

Semua alasan keberatan Muslim terhadap eksistensi Ahmadiyah, sejauh ini adalah alasan keberatan yang bersifat subjektif, yang bagi saya tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang suatu aliran keagamaan.

Contohnya adalah tudingan bahwa Ahmadiyah menodai Islam.

“Menodai Islam” itu menurut siapa? Ya tentu menurut Muslim mainstream yang tidak meyakini Ahmadiyah. Sedangkan dalam perspektif teologi Ahmadiyah yang meyakini Mirza Ghulam sebagai Nabi, maka Muslim mainstreamlah yang dipandang telah menodai Islam karena “menolak kenabian mirza Ghulam”. Nah, kan, subjektif sekali!!

Mirza Ghulam nabi palsu? Ya benar, menurut mereka yang tidak mengimaninya. Bagi yang mengimani, Mirza Ghulam adalah nabi yang asli. Muhammad pun nabi palsu buat mereka yang tidak mengimaninya. Sekali lagi, ini amat subjektif sekali karena menyangkut keimanan.

Di dunia ini, TIDAK ADA ORANG YANG MENGIMANI NABI PALSU. Semua tentu mengimani nabi yang sesungguhnya dan tuhan yang benar, yang tentu menurut keyakinan masing-masing. Tidak ada orang yang menyengaja mengimani sesuatu yang dia yakini salah! Itu namanya orang gila…

Ahmadiyah ngaku Islam, apakah itu tindakan keliru?

Bagi saya tidak masalah. Ahmadiyah mau ngaku Islam kek, Kristen kek, sama-sekali tidak masalah. Semua orang boleh ngaku Islam kok. Dalam hal ini yang penting bukan pengakuan ybs, namun pengakuan masyarakat sekitar. Ahmadiyah punya hak untuk ngaku Islam, dan masyarakat Muslim punya hak untuk tidak mengakui Ahmadiyah sebagai Islam. Silakan masyarakat tidak mengakui keislaman Ahmadiyah. Jika ada konferensi-konferensi Islam atau apa, silakan tidak mengundang Ahmadiyah! Tapi, Ahmadiyah harus diperbolehkan eksis, karena itu menjadi bagian dari hak azasi manusia untuk menganut suatu kepercayaan.

----------------------------------------------------------

Saudara,

Anda harus bisa membedakan mana kritik terhadap demokrasi dengan kritik terhadap subjek yang menjalankan demokrasi itu. Keterpurukan bangsa Indonesia lebih disebabkan karena kegagalan subjek/pemerintah menjalankan sistem yang ada, bukan pada sistemnya itu sendiri. Korupsi dan kolusi yang dilakukan pemerintah bukan bagian dari demokrasi dan kebebasan. Saya pikir itu adalah kejahatan yang dapat terjadi di sistem manapun, termasuk “sistem Islam” sekalipun. Kesengsaraan rakyat bukan akibat dari demokrasi (dari mana anda dapat berpikir seperti itu?) melainkan ketidakbecusan pemerintah menjalankan negara. Banyak negara di Eropa menerapkan sistem demokrasi, dan mereka maju.

Tindakan yang dilakukan AS di Afghanistan dan Irak tidak ada urusannya dengan ideal demokrasi. AS boleh jadi negara yang amat sangat munafik dan tidak demokratis, namun, itu bukan berarti ide demokrasi dan kesetaraan derajat manusia menjadi keliru. Harap diperhatikan sodara!