===============================

Nidlol Masyhud <nidlol@ wrote:

 

Tadabbur yang bagus, Mas Shofi.

 

Saya tidak tahu persisnya. Cuman kalau dicermati dari paparan-paparan di Al-Quran, Syirik Ubudiyyah/Uluhiyyah itu nampaknya lebih tinggi kecamannya dibanding Syirik Hakimiyyah. Meskipun tentunya Syirik Hakimiyyah juga sangat parah (seperti disifati dalam Surat Al-Maidah). Ada dua akar dosa yang dilakukan oleh manusia dalam

poin ini,

 

1. Membuat-buat aturan agama baru

2. Mengharam-haramkan hal-hal yang halal

    

Kedua hal ini sering disebut beriringan dalam Al-Quran. Yang  pertama  sering dilakukan oleh orang-orang yang terlalu ekstrim dalam berpendapat, sedang yang kedua oleh orang-orang yang terlalu ekstrim dalam beribadah.

    

Dumta muwaffaqan!

 

 

 --- In parapemikir@yahoogroups.com, robet qosidi

<robet_gasede@ wrote:

 

Salam,

    

Tauhid uluhiyah dan Rububiyah adalah tauhid bikinan Wahaby dan Ibn Taimiyah. Untuk mentahbiskan bahwa akidahnya adalah yang paling benar dan akidah yang lain adalah salah, atau masih ada kesalahan. Tapi anehnya, saya baca sendiri dalam kitab naqd maratib Ijma', dan beberapa buku lainnya karya Ibn Taimiyah. Ternyata Ibn taimiyah mengakui ke-qadiman alam. Masya Allah. Yang qadim itu hanyalah Allah subhanahu wa taala. Huwa al-Awwalu wa al-Akhir. Orang yang mempunyai    akidah sesat, seharusnya tidak diikuti.

    

 Kalau orang wahaby menganggap bahwa NU itu tuhannya masih rab,  atau    tauhidnya masih rububiyah. Itu kidzb. Kebohongan besar.  Pembagian ilah    dan rab itu dalam mendefiniskan Tuhan hanyalah bid'ah yang paling besar yang pernah dibuat oleh wahaby. Saudaraku, kaum wahabiyah, bertobatlah, jangan pernah mengkafirkan kawan seislam-mu.

    

Kalau pun benar, tuhannya NU adalah Rab dan tuhannya wahaby adalah ilah, maka nanti yang ditanya di alam qubur cuma orang NU saja. Sedangkan wahaby tidak. Kan pertanyaannya man rabbuka? bukan man ilahuka. Ini satu bukti nyata kesalahan kaum wahaby dalam menganggap adanya dualisme dalam tauhid. Tauhid uluhiyah dan rububiyah.  Atau ada rab ada ilah. Masyallah. Istighfar, saudaraku seiman dan  seperjuangan.

 

Tidak ada dualisme antara rab dan ilah. Yang ada hanyalah Allah al-wahid, sang pencipta alam. Tuhannya semua muslim yang sholat menghadap kiblat.

    

    

Salam

 

 

Nidlol Masyhud <nidlol@ wrote:

 

Salam, Bung Robet.

    

Daripada ngelantur ke sana kemari, sebaiknya anda deskripsikan singkat apa yang anda pahami dari Ibnu Taimiyyah mengenai "qidamul 'aalam". Memberikan penilaian adalah buah dari memahami. Kalau pemahamannya saja sudah salah, ya bisa ditebak hasil penilaiannya juga akan  salah.

 

Atau penilaiannya benar tapi jalur penyimpulannya keliru. Penangkapan anda terhadap konsep Uluhiyyah dan Rububiyyah sangat  kacau beliau. Anda masih menganggap bahwa "Ilah" itu adalah pihak lain selain "Rabb". Sepertinya anda belum paham apa yang dimaksud oleh orang-orang 'wahabi' itu. Saya tes saja: apa artinya "al-`illatul ghaa'iyyah `illah faa`iliyyah li faa`iliyyatil `illahtil  faa`ilah"..?

   

Bagian akhir imel anda ini berbunyi "Yang ada hanyalah Allah al-wahid, sang pencipta alam. Tuhannya semua muslim yang sholat menghadap  kiblat". Nah lho... kok ada banyak sifat..?!

   

 ada "al-wahid"?

 ada "sang pencipta alam"?

 ada "Tuhannya semua muslim yang sholat"?

   

 Ini mengacu pada satu entitas ataukah banyak?  Kalau mengacu pada satu entitas, berarti konsep  "Rububiyyah-Uluhiyyah"   benar dan anda salah sangka.

   

Kalau mengacu pada banyak entitas, berarti kaum wahabi salah dan  kaum    musyrik benar.

 

--- In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Badrudduja

   <ahmadbadrudduja@ wrote:

 

Akhi Masyhud,

Tauhid model Wahabi dan Ibn Taymiyah bukanlah satu-satunya model  tauhid dalam Islam. Itu hanya ijtihad saja. Kalau saya membaca kitabnya Muhammad ibn Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid allazi Huwa Haqqullahi ala al-Abid, sama sekali tak menarik. Isinya hanya  kutipan-kutipan ayat. Tak ada elaborasi yang menarik seperti  karya-karya sarjana Asyariyah, Maturidiyah, dan Mutazilah yang sangat kaya itu. Anehnya, sekte-sekte inilah yang dikafirkan oleh kaum  Wahabi. Menurut saya, tauhid Wahabi itu contoh dari tauhid padang   pasir yang kering. Banyak sarjana yang dengan tepat menyebut Wahabi  itu sebagai model keagamaan orang-orang Arab badui.

   

Contoh "Islam badui" di Indonesia adalah Hartono Ahmad Jaiz yang   tahunya hanya Ibn Taymiyah dan Ibn Abdul Wahab lalu mengafirkan  kelompok-kelompok lain.

   

Sekedar mulahazah pendek:

   

Anda menyebut istilah-istilah berikut ini: "al-`illatul ghaa'iyyah,   `illah faa`iliyyah li faa`iliyyatil `illahtil faa`ilah".

   

 Istilah yang tepat sebagaimana dikenal dalam karya-karya sarjana   kalam klasik adalah:

   

    a. 'illah maddiyyah

    b. 'illah fa'iliyyah

    c. 'illah shuriyyah

    d. 'illah gha'iyyah

   

   Ini hanya pinjaman saja dari konsep causa dalam pemikiran  Aristoteles.

 

    AB

 

 

 Nidlol Masyhud <nidlol@ wrote:

 

Mas Badrudduja,

 

 1. Sepertinya anda belum paham deskripsi konsep tauhid seperti apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Taimiyyah, dari mana dia menyimpulkan, dan   apa saja argumentasinya.

  

   Saya tes : Apa artinya "Laa ilaaha illallaah"..?

  

   2. Buku-bukunya Muhammad Ibnu Abdil Wahhab memang ditujukan untuk   orang-orang yang tertarik dan mau tunduk dengan Al-Quran dan Hadits.  Kalau anda tidak tertarik, ya berarti anda tidak masuk dalam target   segmentasi para pembaca bukunya. Kalau sekedar membuat buku-buku yang   dijejali pandangan subyektif kita dan bersih dari ayat-ayat suci,   waah... gampang sekali.

  

   3. Apa ucapan 'kaum wahabi' yang anda maksudkan yang mengkafirkan   sekte Asy'ariyyah, Maturidiyyah, dan Muktazilah? Tolong dikutipkan   secara jelas supaya tidak jadi fitnah dan biar bisa dibahas obyektif.

  

   4. Saya tidak bertanya soal 4 kausanya Aristoletes. Anda salah gawang.   Saya bertanya soal makna "al-`illatul ghaa'iyyah `illah faa`iliyyah li   faa`iliyyatil `illatil faa`ilah".

  

   Anda tahu? Ini ada kaitannya dengan konsep"Rububiyyah-Uluhiyyah".

  

   5. Sekilas, anda sepertinya hobi baca-baca buku kalam Asy'ariyyah,   Maturidiyyah, dan Muktazilah (sebab berani bilang "elaborasi yang   menarik ... yang sangat kaya itu"). Saya tes:   Apa pengertian "Al-'Aalam Haadits" menurut buku-buku itu?

  

 Pertanyaan ini penting. Sebab banyak sekali orang mengaku asy'arian,   tapi sama sekali buta soal konsep-konsep asy'ariyyah. Begitu juga   dengan Maturidiyyah dan Muktazilah.

 

Salam.

  

--- In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Badrudduja

 <ahmadbadrudduja@ wrote:

 

   Akhi Masyhud,

   Kalau sekedar menulis buku dengan jejalan ayat dan hadis, lebih

  mudah lagi :) Tinggal contek dari Quran dan Bukhari-Muslim, selesai

  deh. Orang-orang Wahabi yang nggak mau pakai rasio (atau tepatnya

  malas pakai rasio), memang mau pake metode "pak-eko", alias paket

  ekonomi, murah meriah :) Contek sana contek sini.

  

   Akhirnya, sekarang kita lihat aja apa yang dicapai oleh

Wahabisme di

  Saudi setelah membersihkan aqidah? Yang muncul adalah kebangkrutan

  pemikiran. Kalau tak ditolong minyak, sudahlah kerajaan Saudi hanya

  akan menjadi istana pasir yang mudah rontok.

  

   Kalau mau tahu soal kaum Wahabi mengafirkan kalangan Asy'ariyah,

  Maturidiyyah, Mu'tazilah dan mutasawwifah, baca sendiri

literatur yang

  cukup banyak mengenai itu. Ini sudah pengetahuan umum. Jadi tak

perlu

  rujukan khusus. Rujukan klasik yang sengaja diberangus oleh kalangan

  Wahabi adalah dua buku karya saudara kandung Muhammad ibn Abdul

  Wahhab, yaitu karya Sulayman ibn Abdul Wahhab, al-Shawa'iq

  al-Ilahiyyah dan Zaini Dahlan, Khulasat al-Kalam fi Bayan Umara'

  al-l-Balad al-Haram.

  

   Poin yang ingin saya sampaikan dan Akhi Robet adalah bahwa konsep

  hakimiyyah yang dikenalkan oleh kalangan Ikhwan, HTI yang basisnya

  adalah teologi Wahabi itu hanyalah ijtihad semata; ijtihad yang

  menurut saya ngawur dan mau dijadikan justfifikasi untun main

politik

  atas nama Tuhan.

  

   Yang sungguh saya sesalkan, banyak orang tertipu dengan konsep

yang

  seolah-olah Islami ini.

  

   Arti la ilaha illa l-Lah?

  

   Masak arti syahadat ndak tahu, he he he.... Yang bener aja ah.

Kalau

  bergurau jangan pakai slapstick dong :)))))))))))

  

   AB

 

  Nidlol Masyhud <nidlol@ wrote:

 

Mas Badrudduja,

 

  Saya tidak meminta basa-basi yang banyak dan pelebaran tema. Cobalah

  untuk fokus pada apa yang saya tanyakan.

 

  BTW, anda pernah lihat bukunya Sulaiman ibnul Wahhab itu? apakah

buku

  itu pernah ada di dunia..? ting tong.

 

  NB : Masyhud itu nama ayah saya. Jadi tolong jangan panggil saya

  dengan nama itu.

 

--- In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Badrudduja

 <ahmadbadrudduja@ wrote:

 

  Akhi Ndlol,

  Mohon maaf, saya menolak permintaan anda untuk fokus. Karena fokus

 anda bukan fokus saya. Fokus saya adalah mau mengatakan bahwa tauhid

 rububiyya-uluhiyyah itu "made-in" Ibn Taymiyah dan kaum Wahabi. Harus

 dibedakan antara Islam dengan konsep bikinan orang kayak Ibn Abdul

 Wahhab itu.

 

  Boleh saja bikin konsep, tapi jangan merasa benar sendiri, sehingga

 mengkafirkan orang lain.

 

  Kata Sulaiman ibn Abdul Wahhab, saudaranya pendiri gerakan Wahabi

 tetapi anti doktrin Wahabi itu: wa taj'alun mizan kufr al-nasi

 mukhalafatakum wa mizan al-Islam muwafaqatakum.

 

  Artinya kira-kira, kalian, kaum Wahabi, membuat standar kafir dan

 tidak berdasarkan kriteria sederhana, yaitu cocok dengan kalian atau

 tidak. Mereka yang cocok dengan pendapat kalian, kalian anggap Muslim,

 yang berbeda kalian kafirkan.

 

  Kalau Syekh Sulaiman pernah ke Jakarta dan bergaul dengan anak-anak

 remaja di sana, mungkin dia akan menutup kalimatnya itu dengan ucapan

 ala a-be-ge Jakarta: enak aja elu, emang elu siape! gedublakkkk...

 

  AB

 

Nidlol Masyhud <nidlol@... wrote:

 

Anda yang mulai menanggapi apa yang menjadi fokus saya. Ketika saya

 berikan pertanyaan balik.. mengapa lari..?

 

 Tapi okelah.. saya ngalah. Saya akan ikuti fokus antum.

 

 Poin pertama, soal rububiyyah-uluhiyyah yang ada bilang made in Ibnu

 Taimiyyah. Apa pengertian ibnu Taimiyyah tentang "Laa ilaaha

 illallaah" sehingga anda bisa bilang Tauhidnya Ibnu Taimiyyah itu

 bukan konsep dari Al-Quran?

 

 Kedua, anda sudah berani berlagak menukil kalima yang anda klaim

 diucapkan oleh Syekh Sulaiman. Halaman berapa itu dibukunya? Apakah

 anda pernah melihat langsung bukunya?

 

 Salam.

 

--- In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Badrudduja

<ahmadbadrudduja@... wrote:

 

 Soal konsep tauhid Ibn Taymiyah, bisa anda baca sendiri di bukunya

Ibn Taymiyah yang sebagian dibagi-bagi gratis oleh pemerintah Saudi itu.

 

 Tentu saya sudah melihat langsung buku saudara kandung Ibn Abdul

Wahhab itu. Kalau ndak lihat masak saya sebut. Hanya saja bukunya

sudah ndak ketahuan sekarang, ketlingsut di perpus saya. Kutipan dari

Syekh Sulaiman itu saya ambil dari bukunya Khalid Abul Fadl, the Great

Theft.

 

 Memang kalangan Wahabi mencoba meragukan keaslian buku itu.

Biasalah, propaganda. Persis kayak Orde Baru dulu memberangus

buku-buku karangan orang PKI.

 

 AB

 

Nidlol Masyhud <nidlol@yahoo.com wrote:

 

Saya tidak bertanya soal konsepnya Ibnu Taimiyyah. Ngapain saja

bertanya soal Ibnu Taimiyyah ke antum sedangkan karya beliau sudah

sangat populer? Saya hanya pertanya mengenai pemahaman antum terhadap

konsepnya Ibnu Taimiyyah yang antum anggap tidak sesuai dengan

Al-Quran itu.. Tunjukin dong kalau memang paham!

 

Tentang bukunya Syekh Sulaiman, poin pertanyaan saya bukan pada

keberadaan buku berjudul "Ash-Shawa'iq" yang dinisbatkan pada Syekh

Sulaiman. Kalau itu sih ga perlu ditanyakan lagi. Poin saya adalah

pada kebenaran nisbah dalam buku palsu ini. Kenapa? Karena jelas-jelas

buku ini ahistoris. Secara instrinsik maupun ekstrinsik jelas

meragukan. Masak ada putranya Abdul Wahhab menulis "firraddi 'alal

wahhabiyyah"? Ini kan sama saja salah satu anak setia Sukarno menulis

buku pedas buat saudara kandungnya dan para muridnya dengan judul:

"Bantahan untuk antek-antek Sukarno!"

 

Unik juga cara 'musuh-musuh wahabi' itu ingin beralih dari urusan

argumen ke urusan otoritas. hmm...

  

--- In parapemikir@yahoogroups.com, Ahmad Badrudduja

<ahmadbadrudduja@... wrote:

 

Persis itulah propaganda kaum Wahabi. Apa yang antum katakan itulah yang dipakai sebagai propagandi Wahabi di mana-mana.

 

Soal tauhid uluhiyyah-rububiyya, sudah terang sekali tak ada ayat atau hadis yang menerangkan itu dengan jelas. Ayat dan hadis sih berjibun di buku-bukunya Ibn Taymiyah. Kan ayat bisa dibaca dengan banyak pendekatan. Jadi tauhid uluhiyyah dan segala macem itu hasil ijtihad saja, sifatnya relatif, tak cukup sebagai dasar untuk mengkafirkan kelompok lain.

 

Sama relatifnya dengan hujjah-hujjah kaum Mu'tazilah dan Asyariyah.

 

Yang lebih menggelikan lagi ya konsep hakimiyyah yang didasarkan pada tauhid uluhiyya itu. Seolah-olah konsep ini tauhid tulen, tapi isinya untuk main politik. Ya ngga?

 

AB