Filsafat | Pengantar Filsafat | Logika | Pengantar Logika| Logika Kualitas | Pemikir | Logika Metode | Logika Objek | Epistemologi| Tasawuf - http://www.parapemikir.com
Apakah Agnotisme itu ilmiah?
http://www.parapemikir.com/articles/6497/1/Apakah-Agnotisme-itu-ilmiah/Page1.html
By Diskusi Milist Parapemikir
Published on 05/20/2008
 

Jika kita hendak membahas “tuhan”, pertama-tama kita harus mengetahui di mana “posisi” pemahaman kita terhadap tuhan, apakah berada di wilayah “tuhan filsafat” atau “tuhan normatif”.Yang saya maksud “tuhan falsafati” adalah tuhan dalam kerangka penalaran filsafat yang bersifat umum (general), logis (beralasan), dan “bebas nilai” (objektif).


Apakah Agnotisme itu ilmiah?

Jika kita hendak membahas “tuhan”, pertama-tama kita harus mengetahui di mana “posisi” pemahaman kita terhadap tuhan, apakah berada di wilayah “tuhan filsafat” atau “tuhan normatif”.Yang saya maksud “tuhan falsafati” adalah tuhan dalam kerangka penalaran filsafat yang bersifat umum (general), logis (beralasan), dan “bebas nilai” (objektif).

Filsafat tidak mengharuskan orang untuk percaya atau tidak percaya terhadap tuhan. Tuhan falsafati tidak membutuhkan “iman” sebagai modal untuk menerimanya, melainkan penalaran atau pemahaman. Tuhan falsafati tidak ada urusannya dengan apakah tuhan menyukai kebaikan atau tidak, atau kebaikan macam apa yang disukai tuhan.

Sedangkan “tuhan normatif” adalah tuhan dalam kerangka keimanan (teologi) tertentu yang bersifat “khas”. Sebagai contoh: Agama Islam dan Kristen memiliki “tuhan normatif” yang berbeda. “Tuhan normatif” cenderung dipengaruhi nilai-nilai tertentu, seperti nilai-nilai kebajikan, kesusilaan, dan sebagainya yang dianut oleh subjek (manusia). Sehingga sah-sah saja ketika teologi tertentu mengatakan bahwa tuhan menyukai kebaikan dan membenci kejahatan, atau berbicara mengenai kebaikan macam apa yang disukai tuhan (di sini tuhan terlihat antropomorfis/berpribadi, di mana tuhan menjadi subjek yang memiliki penilaian baik-buruk terhadap sesuatu). (karena pada dasarnya manusia itu mempunyai “norma”, maka manusia cenderung “menciptakan” tuhan yang “pro” dengan norma-norma mereka. Contoh sederhana, tuhan agama-agama semit cenderung “lelaki” karena lahir dalam budaya yang patriarkhis).

Konsep “penggerak utama” Aristoteles adalah contoh hasil perenungan falsafati. Jika itu benar, “penggerak utama” tersebut tidak harus diklaim “telah berinkarnasi ke bumi” untuk menebus dosa, atau “berfirman kepada Muhammad”, atau menjadi bukti adanya “kehidupan sesudah mati”. Apalagi menghukum manusia ke dalam api neraka bagi yang tidak mempercayai “penggerak utama” tersebut.

Sdr Nidlol hendaknya berhati-hati agar tidak mencampuradukkan “tuhan falsafati” dengan “tuhan normatif” agamanya. Walau dalil-dalil logika tentang tuhan yang anda kemukakan boleh jadi benar, tak berarti tuhan normatif anda menjadi ikut benar.

--------------------------------------------------------------------------

Nidlol

Penjelasan-penjelas an itu--kalaulah betul--hanya menjelaskan
proses. Tidak menjelaskan operator.
Padahal secara logis, tidak
mungkin
ada proses tanpa ada operatornya.
Sebuah ledakan tidak mungkin
bisa terjadi tanpa pelaku ledakan.. apalagi juga tanpa "bahan
peledak", tanpa "energi", tanpa "materi", tanpa "volume", tanpa
"waktu", tanpa "ruang",
dan tanpa-tanpa lainnya yang dibungkus dengan
legenda "titik singularitas" dan "dentuman spontan".

Jawaban:

Anda memakai logika manusia yang terbatas dan terkondisi untuk menjelaskan fenomena yang transendental, sehingga anda memahami paradigma “tuhan mencipta” sebagaimana paradigma “manusia mencipta”. Hanya saja, paradigma penciptaan oleh tuhan, anda transendentkan. Ini biang persoalannya, dan nampaknya anda sukar mengakuinya…

Maksud anda, Tuhan tidak mungkin menciptakan suatu apapun tanpa bantuan unsur-unsur lain (yang sebelumnya harus diadakan) begitu?

Tuhan tidak mungkin menciptakan segitiga tanpa lebih dahulu menciptakan substansi yang akan menyusun segitiga, begitu?

Berarti, tuhan itu harus menciptakan “bahan-bahan dasar” dulu sebelum menciptakan sesuatu yang lebih kompleks begitu? Sebagaimana tuhan harus menciptakan “tanah” dulu sebelum menciptakan manusia? Kalau benar mesti begitu, pola penciptaan ini tidak ada istimewanya untuk ukuran “Yang Maha Kuasa”.

Tuhan dengan kehebatannya boleh bisa “sim-salabim” menciptakan aneka bahan dasar, tapi bukan itu persoalannya. Persoalannya adalah bahwa dengan demikian tuhan harus tunduk pada keharusan adanya sebuah “proses” penciptaan, sementara tuhan diklaim Maha Kuasa.

Meyakini adanya suatu pribadi eksklusif yang bertindak menciptakan segala sesuatu yang ada adalah absurd dan paradoks.

Tolong pikirkan: Bisakah tuhan Yang Maha Kuasa merubah paradigma logika berhitung, sehingga 1 + 1 tak lagi 2, dan 5 x 5 tak lagi 25?

Jika bisa, maka bagaimanakah itu?

Jika tidak bisa, maka bukankah berarti tuhan pun tunduk pada hukum-hukum logika?

(Sebenarnya, ketika kita mengatakan tuhan itu transendent, maka dengan sendirinya ini menjadi paradoks. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan tuhan itu transendent, kalau benar demikian?)

Saya tidak berani mengatakan bahwa tuhan eksis atau tidak eksis. Saya pikir, ini persoalan sulit. Manusia seharusnya menyadari keterbatasannya dengan bijak untuk tidak mengatakan apa-apa tentang tuhan, apakah begini atau begitu, bahkan apakah eksis atau tidak.

Dalam salah satu kitab Hindu ada ayat yang mengatakan bahwa Brahman (Tuhan) bukan ini, dan bukan itu. Apapun yang kita pikirkan tentang Brahman, itu bukan Brahman”. Ini ayat yang “apa adanya” menjelaskan kondisi pikiran manusia yang terbatas.

Agama-agama timur (mis. Buddhisme) sejauh yang saya pahami, memulai segala pandangan keagamaannya dari tiga konsep dasar: agnotisisme, pragmatisme, dan humanisme.

 

Agnotisisme:

Ketidaktahuan tentang fenomena tuhan adalah kondisi real manusia yang terbatas.

Pragmatisme:

Apa dan bagaimana tuhan, atau perdebatan mengenai eksis-tidaknya tuhan, tidak ada manfaat kongkretnya bagi manusia.

Humanisme:

Daripada sibuk berpolemik tentang tuhan, lebih bermanfaat membuat laku yang baik, menciptakan kehamonisan dan keselarasan dengan diri sendiri (mengendalikan diri, pikiran, dengan praktik-praktik spiritual Mis. Meditasi, Yoga), masyarakat sekitar (bersosialisasi dengan baik), dan alam semesta (tidak merusak alam).

“Laku yang baik” dan harmonisasi dengan alam inilah yang akan menyelamatkan kita, bukan sosok eksklusif yang anda sebut Tuhan.

--------------------------------------------------------------------------

By the way: Argumen mengenai eksistensi tuhan banyak yang bisa saya hargai, namun sejauh ini saya tidak bisa paham, mengapa tuhan harus menghukum seorang atheis atau agnostis?

Saya pikir, “tuhan yang akan menghukum kaum atheis/agnostis/atau yang tidak seiman” (sesuai dengan doktrin “tidak ada agama yang dirihoi Allah kecuali Islam” dalam agama Islam, atau “extra ecclesiam nulla sallus” dalam doktrin Gereja) atau yang dalam bahasa Arab disebut kaum Zindiq, adalah tuhan dalam konsep normatif agama tertentu. Hendaknya saudara-saudara yang sedang berpolemik memahami hal ini….

Theisme atau atheisme (atau apapun namanya) tidak masalah besar bagi saya asal ada alasan yang bisa diterima. Wacana ini saya pandang sekedar obrolan warung kopi saja, dan tidak ada sangkut-pautnya dengan benar-salahnya prinsip agama yang saya anut. Namun kok rasanya masih sulit, bahkan konyol, menerima “tuhan yang maha besar namun berhati kecil” yang akan menyiksa manusia dengan kejam hanya karena “tidak percaya tuhan” atau karena sekedar meyakini konsepsi teologi yang keliru. ~~~

 

Diskusi oleh :

 

Karl Karnadi

Nidhol Masyud

Rinaldi Maskinantan

Fajar Saptono