Tuhan Pencipta Alam Semesta
- By Milist Parapemikir
- Published 05/18/2008
- FILSAFAT
- Unrated
Seorang bijak bestari, pada suatu kesempatan bertanya kepada seorang ibu tua perajut benang tentang bagaimana ia dapat mengenal Tuhan. Si ibu tersebut berkata: "Rajutan benang yang sedemikian rapi terwujud berkat cipta dan karyaku. Apatah lagi dunia yang sedemikian besar dan agung ini, tidak mungkin tercipta tanpa ada yang menciptakan dan menatanya."
Cipta dan karya memerlukan pencipta dan pekarya (creator). Dalam tatanan kausalitas, ketentuan yang berlaku ialah bahwa sebab melahirkan akibat, dan akibat tercipta berkat peranan sebab.
Kosmos, sebagai sebuah pelataran akibat, tercipta lantaran serangkaian sebab, hingga mencapai Sebab Pertama. Lantaran apabila rangkaian sebab-sebab ini tidak berujung kepada satu sebab pamungkas, maka akan meniscayakan infinite circle (tasalsul) yang telah terbukti kemustahilannya.
Di samping filosof-filosof Barat yang menuturkan gagasan dan ide mereka ihwal Sang Pencipta, di dunia Timur (baca: Islam) terdapat seabrek filosof dengan argumen-argumen rigoris yang menyampaikan gagasan mereka dalam beberapa bentuk argumen filosofis-irfani.
Tentu, bahwa kala seorang filosof bertutur, tuturan tersebut tidak lepas dari penalaran, kontemplasi dan gagasan reflektif. Terlebih, apabila filosof itu adalah filosof yang bersandar pada burhan, irfan dan Al-Qur'an, sebagai pijakan epistemologisnya.
Adapun gagasan dan tuturan yang disajikan oleh filosof-filosof kawakan muslim seperti al-Kindi dan Ibn Rusyd adalah sebagai berikut.
Al-Kindi
Abu Yusuf Ya'qub ibn Ishaq Al-Kindi (801-866) –secara umum- dikenal sebagai filosof pertama Muslim. Ia hidup pada masa khalifah ketujuh Dinasti Abbasiyah pada masa pemerintahan al-Makmun dan saudaranya dan pewaris tahta setelahnya.
Dalam membuktikan wujud Tuhan, al-Kindi menyampaikan
Bukti pertama, disandarkan pada premis bahwa alam semesta itu terbatas pada sudut jasad (jism), waktu (zaman) dan gerak (harakah). Lantaran keterbatasan itu, maka alam semesta haruslah diciptakan. Karena menurut hukum kausalitas, segala sesuatu haruslah memiliki sebab.
Karena alam semesta merupakan akibat, maka siapakah yang menjadi sebab bagi alam semesta? Tuhan adalah sebab pertama bagi alam semesta. Oleh karena itu, ia adalah penyebab dan pencipta alam semesta ini. Maka ia harus ada.
Bukti kedua, Al-Kindi beranggapan bahwa alam semesta ini adalah tersusun (murakkab) dan beragam (katsrah). Dan hal yang tersusun dan beragam itu sesungguhnya tergantung secara mutlak pada satu sebab yang berada di luar alam; satu sebab itu tidak lain adalah dzat Tuhan yang Esa (Adz-Dzat al-Ilahiyyah al-Wahid). Hal demikian dapat ditemui dalam kitabnya On First Philosophy, ketika ia berkata sebagai berikut:
Karena kesatuan dan keanekaan bersama-sama terdapat pada setiap objek indrawi. Dan keanekaan haruslah merupakan satu kelompok dari satuan-satuan tunggal. Jika seandainya tidak ada kesatuan, makaniscaya tidak akan pernah ada keanekaan. Karena keanekaan tidak akan pernah memiliki wujud. Karenanya, setiap perwujudan semata-mata hanyalah akibat, dimana akibat ini mewujudkan sesuatu yang tidak ada menjadi ada; dan konsekuensinya emanasi kesatuan dari Yang Maha Esa, Yang Maha Awal, adalah terwujudnya setiap objek indriawi dari sesuatu yang dilekatkan pada objek indriawi tersebut; dan (Yang Maha Esa) menyebabkan setiap objek itu menjadi ada melalui wujud-Nya.
Olehkarena itu, sebab kejadian (sesuatu itu) adalah kembali kepada yang Maha Esa, yang tidak memperoleh kesatuan dari seorang pemberi, tetapi melalui esensi (dzat)-Nya sendiri.
Bukti ketiga, bersandar pada ide yang menyatakan bahwa sesuatu –secara logis- tidak bisa menjadi penyebab bagi dirinya sendiri. Al-Kindi mengajukan ide tersebut dengan menolak empat keadaan yang mengatakan bahwa sesuatu itu bisa menjadi sebab bagi dirinya sendiri. Keempat keadaan tersebut adalah:
1. Sesuatu yang menjadi sebab bagi dirinya sendiri, mungkin tiada dari esensinya. Dalam hal ini, tidak ada sebab maupun yang disebabkan, karena sebab dan akibat dinisbahkan hanya pada yang ada (wujud).
2. Sesuatu mungkin tidak ada, tapi esensinya ada (wujud). Hal ini meniscayakan bahwa sesuatu yang tidak ada bukanlah sesuatu. Selanjutnya, jika sesuatu yang tiada merupakan sebab bagi dirinya sendiri, maka pada waktu bersamaan (ia) adalah dirinya dan juga bukan dirinya. Hal ini adalah sesuatu yang kontradiktif (tanaqudh). Dan sesuatu (ia) dan juga bukan ia secara bersamaan adalah mustahil mengikut hukum akal.
3. Sesuatu mungkin ada dan esensinya tiada. Di sini, kita juga akan menemukan kontradiksi yang sama.
4. Sesuatu mungkin ada dan esensinya tiada. Dalam hal ini, bisa jadi esensinya berbeda dengan dirinya (yang mana keadaan ini adalah mustahil) ; atau sesuatu yang sama, akan menjadi sebab sekaligus akibat. Dan hal ini juga merupakan sesuatu yang mustahil (kontradiksi). Oleh karena itu, untuk mengatakan bahwa sesuatu benda yang ada dan yang esensinya juga ada -sebagai sebab bagi dirinya sendiri- adalah sesuatu yang rancu.
Berdasarkan penolakan terhadap keadaan di atas, al-Kindi kemudian berkesimpulan bahwa karena ketidakmampuan sesuatu menjadi penyebab bagi dirinya sendiri, maka segala sesuatu secara niscaya memerlukan sebab luar untun mewujudkan dirinya. Tetapi sebab luar tadi, juga tidak mampu mewujudkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, sebab luar itu pun memerlukan sebab lain untuk mengadakan dirinya. Kondisi demikian terjadi secara terus-menerus sampai rangkaian sebab tersebut mencapai sebab terakhir yang tidak tersebabkan. Sebab inilah yang merupakan sebab sejati dan sebab pamungkas dari penciptaan. Sebab inilah yang kita sebut sebagai Tuhan. Karena, jika tidak berujung pada satu sebab yang tak tersebabkan, akan terjadi apa yang disebut sebagai tasalsul (infinite circle) dalam filsafat Islam. Dan hal ini adalah sesuatu yang mustahil.
Bukti keempat, didasarkan pada perumpamaan antara jiwa yang terdapat di dalam jasad manusia dengan Tuhan yang merupakan sandaran bagi alam. Dengan kata lain, jika mekanisme jasad manusia yang teratur menunjukkan adanya kekuatan yang non kasat mata, yang disebut sebagai jiwa, maka mekanisme alam yang berjalan secara teratur, menyiratkan adanya seorang manajer yang mengaturnya. Manajer itulah yang disebut oleh al-Kindi sebagai Tuhan.
Bukti kelima, Al-Kindi menyandarkan bukti yang kelima ini pada rancangan, keteraturan, dan tujuan dari alam semesta. Hal demikian dapat kita lihat ketika ia berkata bahwa:
Susunan yang mengagumkan pada alam semesta ini, keteraturannya, interaksi yang selaras antara bagian-bagiannya, cara yang menakjubkan, dimana beberapa bagian tunduk kepada pengarahan bagian-bagian lainnya, pengaturan yang begitu sempurna sehingga yang terbaik selalu terpelihara dan yang terburuk selalu terbinasakan. Semua ini adalah petunjuk yang paling baik tentang adanya suatu pengatur yang paling cerdas.
Ibn Rusyd
Abu al-Walid Muhammad ibn Muhammad ibn Rusyd al-Hafid lahir di
Sebenarnya argumen yang disebut belakangan, bukan merupakan argumen tipikal Ibn Rusyd. Sebab, bukti ini sebenarnya berasal dari Aristoteles dan kemudian dikembangkan oleh Ibn Rusyd.
Argumen keberadaan Tuhan berdasarkan dalil al-inayah, yang dibangun oleh Ibn Rusyd, bertolak dari dua hal utama: Pertama, bahwa seluruh al-maujudât (yang ada) di alam ini selaras bagi keberadaan manusia.
Kedua, keselarasan ini tentunya tidak terjadi secara kebetulan. Keselarasan itu meniscayakan adanya sebab (fâ'il) yang sengaja mengarahkan untuk tujuan tertentu. Sebab, mustahil keselarasan akan terjadi bila hanya berasal dari suatu proses kebetulan. Berpijak pada dua dasar utama tersebut, Ibn Rusyd kemudian berkesimpulan bahwa keselarasan itu ada yang menciptakan. Pencipta keselarasan itulah yang disebut sebagai Tuhan.
Adapun argumen penciptaan (dalil al-ikhtira') yang dibangun bersadarkan hukum kausalitas. Lantaran bukti ini difondasi dari dua bangunan utama: Pertama, keseluruhan yang ada (al-maujudât) merupakan hasil ciptaan. Kedua, setiap hasil ciptaan pastilah memiliki pencipta.
Argumen gerak (dalil al-harakah) yang sebenarnya bersumber dari Aristoteles, dikembangkan kemudian oleh Ibn Rusyd. Argumen ini menyatakan bahwa "setiap yang digerakkan pasti memiliki penggerak. Sebab tidak pernah ditemui sesuatu yang bergerak dari dirinya sendiri. Dengan kata lain, tidak pernah dijumpai sesuatu yang digerakkan adalah penggerak itu sendiri.
Posted by : M. Nadzar
Related Articles
- Apakah Agnotisme itu ilmiah?
- Motivasi Mencari Pencipta
- The Qur’an and Hadith as source and inspiration of Islamic philosophy
- The Classical Islamic Arguments for the Existence of God
- Filsafat
- Manusia Suci
- Sebab Akibat
- Sesuatu yang baru atau sesuatu yang lama?
- Kebenaran dan Kekeliruan
- Apakah gelombang laut itu ada ?
- Ada apa dengan Eksistensi?
- Ada apa dengan filsafat
- Pandangan umum terhadap filsafat
- Filsafat Iluminasi dan peripatetik
- Metafisika dan filsafat
- Pengantar Filsafat
