Filsafat | Pengantar Filsafat | Logika | Pengantar Logika| Logika Kualitas | Pemikir | Logika Metode | Logika Objek | Epistemologi| Tasawuf - http://www.parapemikir.com
Motivasi Mencari Pencipta
http://www.parapemikir.com/articles/6495/1/Motivasi-Mencari-Pencipta/Page1.html
By Milist Parapemikir
Published on 05/18/2008
 

Di antara kelebihan dan keistimewaan manusia dari makhluk lainnya adalah adanya rasa ingin tahu (kuriositas) terhadap berbagai realitas dan hakikat. Setiap manusia memiliki sifat tersebut -sebagai fitrah yang bersemayam di dalam jati dirinya- yang mulai tampak sejak masa kanak-kanak sampai akhir usianya. Perasaan tersebut bukan hanya mendorong seseorang untuk mengetahui dan mengenal segala apa yang ada di hadapan matanya dan yang ia dengar, bahkan perasaan itupun mendorongnya ingin mengenal dan mengetahui siapa dirinya dan penciptanya.


Motivasi Mencari Pencipta

Di antara kelebihan dan keistimewaan manusia dari makhluk lainnya adalah adanya rasa ingin tahu (kuriositas) terhadap berbagai realitas dan hakikat. Setiap manusia memiliki sifat tersebut -sebagai fitrah yang bersemayam di dalam jati dirinya- yang mulai tampak sejak masa kanak-kanak sampai akhir usianya. Perasaan tersebut bukan hanya mendorong seseorang untuk mengetahui dan mengenal segala apa yang ada di hadapan matanya dan yang ia dengar, bahkan perasaan itupun mendorongnya ingin mengenal dan mengetahui siapa dirinya dan penciptanya.


Lebih jauh lagi perasaan itu akan mendorong seseorang untuk memikirkan berbagai persoalan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat non-materi, yang kemudian timbullah berbagai pertanyaan di dalam lubuk hatinya yang dalam, antara lain: Apakah ada wujud lain yang bersifat non-materi? Jika memang ada, apakah ada hubungan antara alam non-materi dengan alam materi ini? Jika benar terdapat relasi di antara keduanya, apakah wujud non-materi itu sebagai pencipta alam materi ini? Apakah wujud manusia itu terbatas pada badan fisikal ini saja? Apakah hidupnya terbatas pada kehidupan di dunia ini? Ataukah ada kehidupan lain? Apabila kehidupan lain itu ada, apakah ada hubungan di antara kehidupan duniawi ini dan kehidupan ukhrawi? Dan serentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya.


Dengan demikian, naluri rasa ingin tahu itu merupakan motivasi utama yang mendorong seseorang untuk mencari berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan dirinya dan penciptanya.


Motivasi lainnya yang juga sangat kuat membangkitkan keinginan seseorang untuk mengetahui berbagai persoalan termasuk penciptanya adalah rasa ingin memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya di dunia ini, rasa ingin meraih keamanan dan kebahagiaan yang sejati. Oleh karena itu, ia berusaha mengerahkan segala pikiran dan pengetahuannya demi memperoleh kebahagiaan dan keamanan. Karena dengan meyakini adanya pencipta dirinya dan alam semesta ini akan membantunya untuk memenuhi berbagai kebutuhannya dan meraih kesenangan dan keuntungan yang diinginkan serta melindungi dirinya dari bahaya yang mengancamnya.


Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa fitrah mencari keuntungan, kebahagiaan dan rasa aman dari marabahaya merupakan pendorong lainnya untuk mencari Tuhan pencipta. Berdasarkan pandangan ini dapat kita ketahui bahwa mencari Tuhan pencipta merupakan naluri tersendiri pada diri setiap manusia sehinggga tidak perlu lagi menetapkan keberadaannya dengan argumentasi. Tetapi, karena naluri dan kecenderungan semacam itu tidak dapat dirasakan secara langsung -berbeda halnya dengan hal-hal yang bersifat indrawi yang dapat dirasakan secara langsung- maka sangat mungkin seseorang akan meragukan dan bahkan mengingkari keberadaan dirinya dan penciptanya ketika ia berada pada kondisi yang menyenangkan, keamanannya terjamin, segala kebutuhan materinya dapat terpenuhi dengan mudah dan tidak menghadapi dan mengalami problem yang berarti.


Dengan demikian jelaslah bahwa dorongan naluri untuk mengetahui berbagai hakikat dari satu sisi, dan motifasi untuk meraih keuntungan, kebahagiaan dan keamanan dari segala bahaya dari sisi lain, menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk memikirkan dan menemukan jati dirinya dan siapa penciptanya.


Oleh karena itu, ketika seseorang mendengar seruan orang-orang yang beragama atau membaca kisah dan ihwal orang-orang besar dalam sejarah yang mengaku sebagai utusan Sang Pencipta alam semesta ini untuk mengajak umat manusia mengenal dirinya dan Tuhan pencipta dan menuntun umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka tentunya -dengan dorongan naluri tersebut- akal pikirannya tersentuh untuk berpikir, merenung dan mengenal siapa dirinya, bahkan hatinya akan tergerak untuk mencari satu keyakinan atau agama dan melihat sejauh mana kebenaran klaim orang-orang tersebut.


Tetapi tidak sedikit orang-orang yang memang tidak tergerak hatinya untuk mengenal diri dan penciptanya. Biasanya sikap seperti itu menghamipiri mereka karena mereka ingin hidup santai serta suka berleha-leha, atau karena mereka meyakini bahwa usaha semacam itu tidak akan mendatangkan keuntungan dan membuahkan hasil apa-apa, cepat ataupun lambat. Sesungguhnya orang-orang yang memiliki pemikiran semacam ini pada suatu saat nanti akan ditimpa berbagai akibat buruk kemalasan dan kecongkakannya tersebut.


Ada
pula sebagian orang lainnya merasa enggan untuk berpikir dan memahami siapa dirinya dan penciptanya dengan alasan bahwa: memikirkan hal-hal yang seperti itu hanya membuang-buang waktu dan energi saja sementara hasilnya pun tidak dapat diharapkan secara nyata. Dengan demikian -menurut mereka- alangkah baiknya jika tenaga dan waktu ini dikerahkan untuk usaha-usaha yang dapat memberikan keuntungan yang jelas dan lebih banyak daripada harus mencari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan agama yang belum jelas hasilnya.

Mereka mengira bahwa tidak mungkin keuntungan dan kebahagiaan itu dapat diraih melalui jalan agama. Padahal adanya kemungkinan dan harapan terhadap keuntungan dan kebahagiaan yang ditempuh melalui jalan agama itu tidak lebih kecil daripada kemungkinan dan harapan yang ditempun melalui jalan-jalan ilmiah atau lainnya. Sementara masalah-masalah ilmiah itupun baru akan diperoleh hasilnya setelah puluhan tahun lamanya dan dengan mengerahkan segala upaya dan pemikiran.


Biasanya seseorang itu baru akan menyadari tentang perlunya mencari dan mengenal Tuhan pencipta dirinya dan alam semesta ini, ketika ia berada pada kondisi yang sangat sulit yang tidak mungkin lagi dapat ia pecahkan dengan sendiri, sementara tidak seorangpun dapat memberikan bantuan dan pertolongan kepadanya. Ketika seorang pelaut -misalnya- dihempas dan diombang-ambing oleh ombak di tengah lautan nan luas, sementara badai bertiup dengan kencangnya, maka pada saat itulah ia merasakan ada kekuatan yang luar biasa yang bisa menyelamatkan dirinya, kekuatan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, pada saat itulah ia akan menemukan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa di dalam lubuk hati dan jati dirinya.Tuhan, di dalam lubuk hatiku.

 

Posted by : M. Nadzar