Kebenaran dan Kekeliruan
- By Alexander Soebroto
- Published 12/31/2007
- FILSAFAT
-
Rating:




| Sekolah-Kursus-Pendidikan-Study | Interaksi Parapemikir |
|
Bagi yang ingin berdiskusi aktif tentang pemikiran, dan atau ingin mempersoalkan tulisan disitus ini silakan bergabung di mailing list parapemikir@yahoogroups.com Scroll/lihat dikotak paling bawah dan isi alamat email anda dikotak yang sudah disediakan, kemudian klik tombol 'Yahoogroups Joint Now'.
Iman K. |
Berbicara tentang alam objektif memang mengasyikkan, orang-orang pintar jaman sekarang lebih menyukai apa-apa yang bisa dilihat dan didengar dengan mata kepala sendiri sebagai bukti nyata tentang keberadaan dan kebenaran suatu perkara daripada membicarakan yang ‘ndak jelas’ seperti alam ide, alam rasio, dan alam ketuhanan.
Ini sih masih bagus, ada diantara kita bahkan tidak peduli dengan dunia sekitarnya, ada yang tidak peduli karena memang tidak tahu tapi ada juga yang tahu tapi tetap tidak peduli...
Lha, apakah kita memang harus peduli dengan alam sekitar dan semua permasalahannya? Apakah kita perlu tahu tentang jarak antara satu planet dengan planet yang lainnya? Apakah kita harus peduli berapa kedalaman samudra dimana kita tidak pernah ‘berurusan’ dengannya? Apakah kita harus ‘ikut campur’ dengan permasalahan perang ditimur tengah dan lain-lain ?
Mempertanyakan hal-hal yang tidak ‘relevan’ dengan kehidupan kita sehari-hari yang disibukkan dengan urusan kantor, urusan cari makan, urusan sholat, urusan gereja, urusan pasantren, urusan sekolah anak-anak dan lain-lain AKAN kelihatan konyol dan ‘aneh’ bagi kebanyakan orang. Tapi apakah pertanyaan seperti diatas itu sebenarnya konyol bin aneh dalam hubungannya dengan kehidupan kita sehari-hari?
Dalam kitab suci Al-quran yang saya yakini akan kebenarannya, jelas secara terang benderang disampaikan “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,” (Ar’Rad : 19)
Sungguh pertanyaan-pertanyaan seperti diatas bukanlah pertanyaan konyol dan aneh untuk kita semua, tidak peduli apapun latar belakang kita, seharusnya kita mau duduk bersimpuh sebentar untuk memperhatikan alam sekitar kita, merenung dan bersyukur akan anugrah akal yang telah diberikanNya kepada kita.
Percumalah hidup ini bagi seorang pedagang kalau dia berdagang tanpa menggunakan ilmu, Tanpa ilmu yang mumpuni (lengkap) percuma juga orang-orang sholat, kegereja, ke klenteng, membela agama dan lain-lain karena akan tetap gemar menipu, memaki, korupsi dan lain-lain.
Sekarang saya anggap saja semuanya sudah setuju dengan pentingnya kita mengetahui alam sekitar dengan ilmu yang mumpuni . (Karena saya juga tidak menawarkan opsi yang lain hehehe… )
Setelah setuju dengan pentingnya untuk memperhatikan alam sekitar, sekarang yuk kita lihat dulu sedikit tentang apa yang menjadi model dan acuan keilmuan bagi orang-orang jaman sekarang, yaitu alam objektif (alam materi). Sebenarnya apakah alam materi itu ‘
Kita lihat sebentar isi dari alam objektif itu…, apa sajakah isinya?
Kita semua bisa dengan mudah menyaksikan disekitar kita ada gunung, ada laut, ada gedung-gedung, ada rumah, ada mobil. Pertanyaannya adalah apakah benda itu ada dan benar adanya?
Jawabnya tentu ada dan benar adanya. Benda-benda itu ada dan bisa ditemukan dengan mudah disekitar kita. Benda-benda yang bisa dilihat dengan mata kepala ini disebut dengan ‘ada eksternal’ , yaitu ‘adanya’ diluar diri kita (terpisah dengan kita).
Dari jaman kuda gigit besi sampai dengan jaman secanggih sekarang ini kita telah menyaksikan betapa ‘ada eksternal’ (Eksistensi eksternal) ini telah merubah peradaban anak manusia, dan faktanya memang sebagian besar dari ‘ada eksternal’ ini memang betul-betul BENAR dan NYATA.
Kita perhatikan…Bahwa dengan bantuan pancaindra dan alat perasa kita mampu membedakan panas dan dingin, api dan es, siang dan malam, panjang dan pendek, tinggi dan rendah, jauh dan dekat, besar dan kecil, bohong dan jujur, koruptor dan orang jujur, sapi dan dendeng. Sungguh fakta itu adalah kebenaran dan sama sekali tidak keliru. Maka sangat aneh kalau orang seperti
Itu sekilas tentang eksistensi eksternal, sekarang kita ke ‘benda’ yang berikutnya, kita bisa ‘membayangkan’ ada monas dijakarta, ada
Jawabnya, bisa ya bisa juga tidak, bisa ada bisa juga tidak. Membayangkan tentang adanya sesuatu ini disebut dengan ’ada mental’, yaitu ‘adanya’ didalam pikiran kita (‘dikepala’ kita)
Kenapa ‘ada mental’ (eksistensi mental) ini mendapat jawaban tidap pasti? Bisa iya bisa tidak, bisa ada bisa tidak? Ini menarik…, yuk kita lihat ilustrasinya.
Misal, saya membayangkan ada monas dijakarta…, apakah ‘bayangan’ saya itu betul-betul ‘benar’ (kebenaran) atau salah (kekeliruan)? Setelah saya lihat dengan mata kepala saya sendiri memang betul ‘ada’ monas dijakarta, maka apa yang saya ‘bayangkan’ tadi adalah suatu kebenaran (Fakta monas betul-betul ada).
Fakta yang saya temukan dilapangan ini adalah merupakan ‘pengetahuan dan sumber pengetahuan’ bagi mental saya.
Dan bagaimana kalau sebaliknya? misalnya monas yang saya ‘bayangkan’ tadi sudah hanyut dan hilang dibawa Tsunami? Tentu saja ‘bayangan’ saya tentang ‘ada’ monas dijakarta tadi menjadi suatu kekeliruan (Fakta monas sudah tidak ada).
Fakta ‘lain’ yang saya temukan dilapangan ini juga merupakan ‘pengetahuan dan sumber pengetahuan’ bagi mental saya. Dalam dua skenario diatas, kita sekarang bisa memahami kenapa eksistensi mental tidak langsung otomatis bisa menjawab ada atau tidak ada.
Sekarang kita telah mengetahui perbedaan tentang keberadaan alam objektif, yaitu alam materi yang bisa disaksikan secara gamblang dan alam mental yang harus dengan sedikit mikir J
Kemarin disuatu milist yahoogroups ada yang tanya kepada saya, kenapa yang ada dipikiran disebut sebagai eksistensi mental (ada mental)? Apakah setiap perkara ‘ada’ (esksistensi) dinamai sesuai dengan keberadaan-nya? Misalnya, ada lukisan gambar Nyi Loro Kidul, Lukisan Kuda Terbang, Lukisan Bidadari, Lukisan gambar Yesus. Apakah ‘ada’ seperti itu disebut dengan ‘Eksistensi Lukisan ‘atau ‘Eksistensi Dinding’ (karena digantung didinding,red).
Tentu saja perkara seperti itu tidak bisa dinamai dengan ‘eksistensi lukisan’ ataupun ‘eksistensi dinding’ .
| Bergabung dengan Mailing List Para Pemikir |
|
|
Spread The Word
Article Series
-
Kebenaran dan Kekeliruan
Related Articles
- The Classical Islamic Arguments for the Existence of God
- Apakah Agnotisme itu ilmiah?
- Tuhan Pencipta Alam Semesta
- Motivasi Mencari Pencipta
- An Introduction to 'Ilm al-Kalam
- The Qur’an and Hadith as source and inspiration of Islamic philosophy
- Filsafat
- Manusia Suci
- Sebab Akibat
- Ada apa dengan Eksistensi?
- Ada apa dengan filsafat
- Pandangan umum terhadap filsafat
- Filsafat Iluminasi dan peripatetik
- Metafisika dan filsafat
- Pengantar Filsafat
